Seorang
manusia tidak akan pernah bisa mengetahui kapan kematian akan menjemput. Dan
apakah kita sebagai manusia dapat terbebas dari api neraka ? Apakah dia sudah
menunaikan shalat, zakat, puasa, haji, atau membaca Al-qur’an secara rutin,
maka dia akan terbebas dari pintu-pintu azab Allah Subhanahu Wata’ala ?.
Imam ‘Alauddin Az-Zindusti menulis
dalam kitabna Raudhatul Ulama, bahwa Sa’ad bin Muhammad al-Astarusyni, seorang
ahli fikih yang zahid, mendapat cerita dari Kalabi, dari Abi Shalib, dan dari
Ibnu Abbas, bahwa sebuah ayat Al-Qur’an dipertanyakan kepada Nabi yang berbunyi
: “Kerap kali orang-orang kafir itu ingin menjadi orang muslim.” (QS.AlHijr:2)
Dan Nabi pun menjawabnya. Yakni sebagaimana yang
diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi
wasallam, pernah bersabda, “Ketika berkumpul para ahli neraka termasuk
didalamnya para ahlul qiblah (mereka yang shalat menghadap kiblat alias orang
Islam).
Orang kafir tersebut bertanya kepada ahli kiblat itu :
“Bukankah kau orang Islam ?”
“Ya”
“Lalu
apa gunanya Islammu jika ternyata kau berkumpul bersama kami disini ”
“Kami
punya banyak sekali dosa-dosa kepada Allah, maka kami di azab disini. ”
Tapi Allah mendengar bahwa ahli
kiblat masuk neraka, lau Allah mengampuni mereka dengan Keutamaan-Nya dan Kasih
Sayang-Nya. Lalu Allah menyuruh ahli kiblat tersebut untuk keluar, dan
merekapun keluar dari neraka.
Pada saat itulah
orang-orang kafir ingin sekali masuk Islam, Ibnu
‘Abbas berkata, “Kelak, di hari kiamat, akan digiring dari umat ini satu
kelompok di atas sirath (titian). Dan itu karena yang pertama kali masuk surga,
selain para Nabi, adalah umat ini (Umat Muhammad shalallhu ‘alaihi wasallam).
Sedang orang yang terakhir adalah orang yang seharusnya masuk neraka, tapi Nabi
lalu melihat bahwa mereka itu umatnya, berkat tanda cemerlang pada anggota
tubuh mereka yang selalu terkena air wudhu.
Nabi lalu berkata : “wahai Jibril kenapa amsih ada uamtku yang masih ditahan di Shirath ?”
Yang menjawab adalah Allah : “Singkirkan mereka dilembah-lembah
kiamat, hingga Muhammad masuk syurga.” Maka ketika Rasulullah shalallahu
‘alaihi wasallam memandang kiamat, beliau mengira semua umat beliau telah habis
masuk surga lebih dahulu. Dan ketika Nabi memasuki surga, Allah berfirman
kepada malaikat Zabaniah (Malaikat Pengazab): “Giringlah mereka, serahkan
kepada Malik ( Malaikat penjaga Neraka).”
Dan ketika Malik melihat ahli neraka
itu, ia berkata, “Wahai kelompok orang-orang celaka, siapa kalian, dari umat
mana? Saya tidak menyangka kalian akan menjadi penghuni neraka. Biasanya yang
masuk kemari, diikat, dibelenggu dengan rantai, dikumpulkan dengan para setan,
dengan wajah hitam legam dan mata member. Kalian tidak. Kaki dan tangan kalian
tidak di borgol. Wajah kalian tidak hitam dan mata kalian tidak membiru. Kalian
datang kemari berjalan kaki seperti biasa? Dari umat siapa kalian?”
Mereka
menjawab : “jangan bertanya tentang itu wahai malaikat Malik, kami sangat malu
mengatakannya padamu. Tapi adalah oang-oang yang mnghapalkan Al-qu’an, bpuasa I
bulan suci Ramadhan, yang naik haji, Berperang di jalan Allah, yang menunaikan
zakat, yang menghormati anak yatim, dan selalu menunaikan sholat yang 5, dan
selalu mandi Janabat (mandi karena ada hadast besar) ”.
“lho
bukannya ada Al-qur’an yang yang menabirimu dari maksiat, dan menjagamu agar
tidak masuk kemari ?”
“Wahai
Malaikat Malik jangan mencemooh kami seperti itu. Kami telah selamat dari
cemooh Allah.”
Lalu
terdengar suara, “Wahai Malik masukkan mereka kedalam pintu neraka yang teratas
!”
"Mendengarkah kalian suara itu ?" Malik bertanya.
“Ya.” Jawab mereka. “Tapi, biarkan dulu kami sesaat meratapi
diri.”
“Tidak mungkin,” jawab Malik.
Tiba-tiba bergema lagi suara, “Hai Malik, biarkan mereka menangis dan meratapi diri. Lalu kumpulkan mereka yang menghafal Al-qur’an dalam kelompok sendiri. Yang berhaji dalam kelompok sendiri, yang bejihad dalam kelompok sendiri. Juga kaum wanita kau sendirikan.”
Mereka lalu melolong meratapi nasib diri. Begini ratap mereka, “Bagaimana kami kuat didera siksa neraka, padahal kami tak kuat tempaan panas sang surya. Bagaimana kami kuat mengenakan aspal yang panas, sedang yang kami pakai biasanya baju yang nyaman dan lembut. Bagaimana kami kuat memakan arang dan minum air mendidih, sedang kami biasanya makan makanan lezat dan minum-minuman sejuk.”
“Nah, kalian dengar?” Tanya Malik. “Kalian mengerti suara itu”
“ya”
“Dari umat mana kalian ini ?” Malik bertanya.
“sungguh kami malu menyebutkannya,” jawab mereka.
Malik lalu menggiring mereka kedalam neraka. Yang tua dijajaran paling depan. Lalu menyusul yang muda. Kemudian para wanita, hingga semua tiba di bibir jahannam. Malaikat yang garang dan keras pun muncul segera. Malaikat ini diciptakan Allah tanpa kalbu, tak merasa kasihan kepada siapapun Ia menyiksa tanpa ampun tanpa kompromi. Seribu malaikat zabaniah mengeroyok setiap orang dari mereka. Mereka lalu dilemparkan kedalam neraka; ada yang di pegang pergelangan kakinya, atau lututnya, pinggangnya, dan ada pula yang dijerembabkan pada dadanya.
Ketika api neraka akan menjilat mereka; terdengar suara gemuruh lagi dari arah ‘Arasy, “Hai Malik, urapkan api ke muka dan hati mereka. Orang-orang ini pernah ikrar kepada-Ku dengan lidah mereka. Sudah mengenal Aku dengan hati mereka, dan pernah sujud dalam hidup mereka dalam dunia.”
Mendengar suara begitu serta merta mereka melolong: “Wahai Muhammad, wahai Abu Qosim ( salah satu gelar panggilan Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam). Artinya; bapak si Qosim; salah seorang putra Nabi, wafat dimasa kanak-kanak, adalah al-Qasim), wahai Muhammad yang selalu berbuat baik kepada para janda dan yatim piatu, wahai orang yang paling mulia di hari kiamat, wahai pembebas bangsa-bangsa, wahai pembuka pintu surga, wahai penutup pintu neraka umat-umatnya, wahai penolong umat-umat, kami orang-orang lemah dari umatmu yang tak tahan lagi dengan siksa neraka. Selamatkan kami dari neraka, berikan kepada kami syafa’at Tuan !”
Lalu muncul seseorang yang meletakkan kedua tangannya pada kedua telinganya seperti hendak menyerukan adzan, dan berteriak: “Kami dari umat Muhammad!”
Mendengar pekikan itu, Malik segera berangkat ke surga dan menemui Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam. Nabi sendiri kala itu sedang menikmati kehidupan surga.
“Muhammad, Tuan senang disini, padahal umat Tuan yang dhaif meminta pertolongan Tuan. Berilah pertolongan; mereka benar-benar lemah dan tak mampu lagi tinggal dalam neraka.
Ketika mendengar berita yang di bawa Malik, Muhammad serta merta meninggalkan kursinya dan mencari Buraq untuk dikendarai.
“Cepat Buraq! Cepat! Umatku yang lemah sudah tak kuat lagi menahan siksa neraka,” Kata Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam.
Buraq lalu meletakkan kaki depannya persis dimulut neraka
jahannam. Benar. Nabi mendengar suara umat beliau dan pekikan rintih yang
mengiringi siksa mereka. Nabi menangis mendengar kesemuanya.
“Malik, keluarkan meraka dari neraka,” Nabi meminta.
“Saya tidak bisa melakukannya, Ya Muhammad, kecuali ada perintah Allah.
Muhammad lalu turun dari Buraq dan menangkap kaki ‘Arasy, kemudian ia bersujud. Ia mengadu kepada Allah.
“Tuhanku, beginikah kiranya janji-Mu kepadaku untuk tidak menyiksa umatku dalam neraka?”
“Wahai Muhammad, mereka sudah melupakanmu waktu hidupnya. Mereka meninggalkan syari’atmu, maka aku juga melupakan syafaatmu kepada mereka. Sekarang berilah mereka syafaat,” Jawab Allah.
Nabi Muhammad lalu memberi syafa’at dan Allah pun menyelamatkan mereka, mengeluarkan mereka dari neraka. Tinggallah orang-orang kafir di situ. Kala itulah orang-orang kafir pada merintih, “Seandainya kami dulu mau menjadi muslim, tentunya kami juga dikeluarkan seperti mereka. “
Ibn ‘Abbas lalu mengutip ayat Al-Qur’an: “Kerap kali orang-orang kafir itu ingin menjadi orang muslim.” (QS. Al-Hijr:2).
berdasarkan kisah diatas, ada dua
hal yang layak kita cermati :
Pertama, bahwa menjadi muslim yang senantiasa beribadah belumlah menjamin
dirinya itu benar-benar terlepas dari pintu neraka. Hal ini mungkin karena
ibadah si muslim dilakukan bukan karena hati yang ikhlas tapi karena sesuatu
diluar itu. Dalam kisah tersebut, beruntung Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi
wasallam masih berkenan memintakan syafaat untuknya. Namun, coba kita bayangkan
bila Rasulullah tidak meluluskannya. Neraka akan menunggu kita. Naudzubillah.
Hal ini bisa saja terjadi sebab kita tidak tahu apakah kita yang termasuk ahli
yang mendapat syafaat beliau atau tidak.
Kedua, penyesalan selalu datang diakhir cerita. Begitulah yang dirasakan orang-orang kafir dalam kisah diatas. Karena itu adalah perkara mutlak bagi kita untuk terus beriman kepada Allah subhanahu wata’ala dan Rasul-Nya hingga kita tidak menyesal di hari pembalasan nanti. Amin. Wallahu ‘alam bil Shawab.